antara manohara dan prita mulyasari

sepekan belakangan ini kita cukup disibukkan pemberitaan media massa tentang duo indonesiana yaitu manohara odelia pinot dan prita mulyasari. prahara duo ini (mungkin) menyisakan kegetiran disebagian kita.kegetiran yang timbul dari orang-orang kecil yang tak bisa berbuat apa-apa ketika dihadapkan pada sekelompok penguasa. idealisme tentang persamaan HAM tiba-tiba menguap ketika kerusakan itu ditimbulkan oleh pemegang kekuasaan. terlepas real nya seperti apa tapi setidaknya itulah selintas kesimpulan yang ditarik dari pemberitaan media saat ini.
saat kita berbicara manohara, satu hal yang ingin saya sorot. begitu dilematisnya kasus yang menimpa manohara… apakah begitu susah mendapatkan perlindungan HAM ketika kita berada dibawah sistem istana yang super ketat dan terkawal dengan rapi? apakah pelayanan kedutaan hanya senin - jumat? lalu saat ada yang gawat darurat dan mau meninggal mungkin saat hari minggu, lalu kedutaan akan diam dan cukup berkata, this is sunday. gak ada pelayanan.. apakah memang begitu??? lalu apakah manohara-manohara yang lain juga mendapat perlakuan yang sama?? semoga tidak.. hopeful..
dan untuk hal ini ada yang ingin saya sampaikan kepada manohara.. yakinlah saat tak ada lgi yang kita anggap tak bisa membantu, jangan lupa tangan Allah masih banyak untuk merangkul.. hanya sabar dan percaya.
lebih jauh lagi pada kasus prita mulyasari, saya pribadi cukup tersentak… saat seorang prita tidak bisa mendapatkan haknya berupa rekam medis kesehatan pada sebuah rumah sakit besar (yang katanya internasional), dan kemudian ia mencoba sharing dengan hanya beberpa teman, tiba-tiba saja curhat itu pun berbuntut panjang. ancaman 6 tahun penjara dan denda sekian ratus juta rupiah mengambang di depan mata.
saya cukup yakin jika seorang prita menjadi trauma dan sangat shock. karena dia hanya masyarakat awam yang ingin coba membagi pengalamannya pada beberapa teman dekat. namun entah siapa yang salah tiba-tiba semua nya menjadi kasus pidana.
kemudian yang menjadi pertanyaan bagi saya pribadi, dimanakah letak kebebasan berpendapat di negara berpasal 28 ini? prita punya cukup bukti dan informasi yang dia tulis juga untuk kepentingan publik agar tak ada lagi prita-prita lainnya yang menjadi korban. yaahhhh…. fiuh…
the last one, untuk mba prita, kata orang bahasa mba di email cukup menusuk, tapi bagi saya itu adalah bahasa pergaulan mba dengan teman-teman. saya rasa tidak perlu didramatisasi. esensinya kita mengatahui bahwa mba prita tak mendapat haknya sebagai pasien.

banyak hikmah pastinya… i do believe you have different one…

About the Author

Umi Fahri has written 44 stories on this site.

One Comment on “antara manohara dan prita mulyasari”

  • rahmat saleh wrote on 29 August, 2009, 23:08

    ass.ww. teuku fahri tidak bisa diberi hukuman karna dimalaysia, keturunan raja kebal hukum.hukum hanya berlaku pada yang tidak keturunan raja atau orang melayu. ass.

Write a Comment

Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!

Copyright © 2010 A Blog Written By Sri Nova Amiliona, S.Pd (webmaster ahlul.web.id - hosted by iixmedia.com). All rights reserved.